BeritaDaerah

Dr. Muh. Tahir: Pendidikan Atau Ijazah

14
×

Dr. Muh. Tahir: Pendidikan Atau Ijazah

Sebarkan artikel ini

Mamuju (pelitapagi.com)Tanggal 2 Mei kembali hadir sebagai penanda kesadaran nasional. Hari Pendidikan Nasional bukan sekadar seremoni, tetapi momentum untuk bertanya jujur sudahkah pendidikan kita melahirkan manusia merdeka atau sekadar lulusan berijazah. Jejak sejarah membawa kita pada sosok Ki Hajar Dewantara, yang pada tahun 1922 mendirikan Perguruan Taman Siswa. Gagasannya sederhana namun revolusioner. Pendidikan adalah proses memerdekakan manusia bukan hanya dari kebodohan tetapi dari ketergantungan berpikir. “Ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani”, bukan slogan kosong, tetapi arah peradaban.

Dulu, pendidikan lahir dalam kesederhanaan papan tulis kapur dan ruang kelas yang bersahaja. Kini, dunia pendidikan telah melompat ke era digital kelas daring kecerdasan buatan hingga akses global tanpa batas. Namun pertanyaan mendasarnya justru semakin tajam apakah kualitas meningkat seiring teknologi, dan yang lebih penting, apakah moral ikut tumbuh, banyak pakar pendidikan modern menegaskan bahwa kualitas tanpa moral melahirkan kecerdasan yang dingin, sementara moral tanpa kualitas melahirkan ketulusan yang tak berdaya. Pendidikan seharusnya melahirkan keduanya secara utuh akal yang tajam dan hati yang jernih.

Di desa hingga kota semangat pendidikan terus menyala. Orang tua berjuang menyekolahkan anak berharap masa depan yang lebih baik. Namun realitas sering pahit gelar bertambah tetapi lapangan kerja menyempit. Badan Pusat Statistik beberapa tahun terakhir menunjukkan tren meningkatnya pengangguran terdidik. indikasi bahwa ada yang tidak sinkron antara pendidikan dan kebutuhan nyata. Di titik ini, kritik Rocky Gerung menjadi relevan pendidikan bukan tentang ijazah, tetapi tentang perubahan cara berpikir.

Riset global oleh World Economic Forum dalam laporan Future of Jobs menunjukkan bahwa keterampilan yang dibutuhkan bukan lagi sekadar hafalan tetapi kemampuan berpikir kritis kreativitas dan problem solving. Sementara studi OECD menegaskan bahwa sistem pendidikan yang berhasil adalah yang mampu menghubungkan pembelajaran dengan konteks kehidupan nyata. Artinya sekolah yang gagal membentuk pola pikir adaptif akan tertinggal, seberapa pun megah infrastrukturnya.

Maka pengelola pendidikan guru dosen dan institusi perlu kembali bercermin. Lembaga pendidikan bukan pabrik ijazah tetapi pabrik perubahan cara berpikir dan pembentukan moral. Penelitian dalam jurnal pendidikan tinggi (misalnya oleh UNESCO) menunjukkan bahwa integrasi antara kompetensi akademik dan pendidikan karakter secara signifikan meningkatkan keberhasilan lulusan dalam dunia kerja dan kehidupan sosial. Lulusan yang unggul bukan hanya ahli di bidangnya, tetapi juga menjadi teladan dalam masyarakat.

Lebih jauh pendidikan bukan ruang komersialisasi tanpa batas. Ia adalah ruang pengabdian. Memang keberlanjutan operasional membutuhkan biaya tetapi ruh pendidikan adalah nirlaba setengah sosial setengah bisnis. Ketika orientasi berbalik menjadi murni profit maka nilai luhur pendidikan akan terkikis. Di sinilah pentingnya kembali pada jalan Ki Hajar Dewantara pendidikan untuk membangun bangsa, bukan memperkaya institusi semata.

Jika kita menoleh ke negara lain, Malaysia, Singapura Jepang China hingga Amerika kemajuan mereka berakar pada pendidikan yang melahirkan inovasi. Mereka tidak sekadar mencetak sarjana tetapi pencipta teknologi. Sementara Indonesia masih tertatih dalam jumlah inovator. Data riset global menunjukkan rendahnya kontribusi paten dan inovasi dari institusi pendidikan kita dibanding negara-negara tersebut. Ini bukan karena kita kekurangan sumber daya manusia, tetapi karena sistem belum sepenuhnya mendorong kreativitas dan keberanian bereksperimen.

Dalam perspektif spiritual, Al-Qur’an memberi arah yang tegas. Allah berfirman: “Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan berilmu beberapa derajat” (QS. Al-Mujadilah: 11). Ilmu tidak berdiri sendiri; ia harus terikat dengan iman. Rasulullah SAW juga bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” Pendidikan sejati adalah yang melahirkan kebermanfaatan, bukan sekadar kebanggaan personal.

Implikasinya jelas: jika pendidikan hanya mengejar angka kelulusan, maka kita akan terus memproduksi pengangguran terdidik. Jika pendidikan hanya mengejar profit, maka kita akan kehilangan ruh pengabdian. Jika pendidikan mengabaikan moral, maka kita akan menciptakan krisis etika di tengah kemajuan teknologi.

Kesimpulannya, pendidikan Indonesia sedang berada di persimpangan: antara melanjutkan tradisi lama yang berorientasi ijazah atau bertransformasi menjadi ekosistem pembentuk manusia utuh. Paradigma baru harus dibangun, pendidikan yang berkualitas, bermoral, dan inovatif.

Rencana aksinya tidak bisa ditunda kurikulum harus berbasis problem solving dan kewirausahaan guru dan dosen kembali menjadi fasilitator kreativitas, bukan sekadar penyampai materi kampus tapi menjadi inkubator inovasi, bukan hanya ruang kuliah; dan lembaga pendidikan, yaitu kembali pada ruh pengabdian.

Hari ini, di Hari Pendidikan Nasional, pertanyaannya bukan lagi “berapa banyak lulusan kita, tetapi berapa banyak problem yang bisa mereka selesaikan, disitulah masa depan bangsa ditentukan. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *