BeritaDaerah

Akhiri Dualisme, Konferda GMNI Sulbar Tetapkan Misbahuddin dan Yudi Toda sebagai Pimpinan Baru

25
×

Akhiri Dualisme, Konferda GMNI Sulbar Tetapkan Misbahuddin dan Yudi Toda sebagai Pimpinan Baru

Sebarkan artikel ini

MAMUJU (pelitapagi.com) Setelah bertahun-tahun dilanda dualisme kepemimpinan, Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Sulawesi Barat akhirnya menyatakan persatuan dalam momentum Konferensi Daerah (Konferda) Persatuan yang digelar pada 24–26 April 2026 di Aula Kanwil Kemenag Sulbar.

Dalam forum tertinggi organisasi di tingkat daerah tersebut, Misbahuddin resmi terpilih sebagai Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) GMNI Sulawesi Barat, didampingi Yudi Toda sebagai Sekretaris DPD untuk periode kepengurusan selanjutnya.

Konferda ini menjadi titik balik penting bagi GMNI Sulbar yang sebelumnya terfragmentasi akibat konflik internal berkepanjangan. Dualisme kepemimpinan yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir dinilai telah menghambat konsolidasi organisasi serta melemahkan peran GMNI dalam merespons persoalan sosial dan politik di daerah.

Mengusung semangat rekonsiliasi, seluruh elemen kader dari berbagai kubu sepakat mengakhiri perpecahan dan kembali dalam satu barisan perjuangan. Kesepakatan tersebut tercermin dalam jalannya sidang yang berlangsung dinamis, namun tetap mengedepankan semangat persatuan sebagai fondasi utama.

Dalam sambutannya, Ketua DPD GMNI Sulbar terpilih, Misbahuddin, menegaskan bahwa kepemimpinan ke depan harus berangkat dari semangat persatuan dan komitmen ideologis.

“Kami ingin memastikan seluruh DPC di Sulbar terlibat dan terakomodasi. GMNI harus menjadi rumah bersama, bukan ruang yang eksklusif bagi kelompok tertentu,” kata Ketua DPD terpilih, Misbahuddin, dalam sambutannya (26/04/2026).

Misbahuddin menambahkan, semangat “GMNI Naik Kelas” akan menjadi orientasi gerakan ke depan.

“GMNI harus tampil sebagai kekuatan intelektual dan gerakan. Tidak hanya menjadi juru pukul, tetapi juga juru pikir dalam merespons persoalan rakyat,” kata dia.

Sementara itu, Sekretaris DPD terpilih, Yudi Toda, menekankan pentingnya konsolidasi internal secara menyeluruh pasca-dualisme. Ia menyebut bahwa kerja organisasi ke depan harus lebih terarah dan disiplin.

“Persatuan ini harus ditindaklanjuti dengan kerja nyata. Konsolidasi kader, penguatan struktur, dan keberpihakan terhadap persoalan rakyat harus menjadi prioritas utama,” kata Yudi.

Ia menegaskan, marhaenisme tidak boleh diposisikan hanya sebagai warisan historis, melainkan sebagai metode analisis dalam membaca realitas sosial.

“Marhaenisme harus menjadi alat untuk mengurai ketimpangan, memahami relasi kuasa, dan menentukan keberpihakan yang tegas kepada rakyat kecil,” ujarnya.

Menurut dia, penguatan ideologi menjadi penting agar arah gerakan organisasi tetap konsisten.

“Ideologi adalah kompas yang menjaga setiap langkah GMNI agar tetap sejalan dengan cita-cita pembebasan kaum marhaen,” kata Yudi.

Berakhirnya Konferda ini menandai babak baru perjalanan GMNI Sulbar. Harapan besar kini tertuju pada kepemimpinan baru untuk membawa organisasi kembali solid, progresif, dan konsisten dalam menjalankan peran sebagai organisasi kader dan organisasi perjuangan di tengah dinamika sosial-politik daerah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *