BeritaDaerah

Kabut Asap Selimuti Mamuju Beberapa Hari Terakhir, BPBD Ingatkan Bahaya Partikulat Bagi Anak, Lansia, Ibu Hamil

21
×

Kabut Asap Selimuti Mamuju Beberapa Hari Terakhir, BPBD Ingatkan Bahaya Partikulat Bagi Anak, Lansia, Ibu Hamil

Sebarkan artikel ini

Mamuju (pelitapagi.com) Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sulawesi Barat, Muhammad Yasir Fattah, mengimbau masyarakat untuk tetap tenang namun meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak paparan asap dan partikulat udara.

Imbauan tersebut disampaikan Yasir Fattah menanggapi kondisi udara di Kabupaten Mamuju yang dalam beberapa hari terakhir tampak lebih berasap dan dilaporkan berada pada kategori sedang hingga tidak sehat.

Example 728x250

Ia mengatakan kondisi tersebut perlu menjadi perhatian bersama, khususnya karena Kabupaten Mamuju merupakan salah satu wilayah yang saat ini berada dalam konteks ancaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).

“Asap yang terlihat di wilayah Mamuju tidak serta-merta dapat disimpulkan seluruhnya berasal dari kejadian kebakaran di dalam wilayah Mamuju. Berdasarkan informasi yang diberitakan, terdapat dugaan kontribusi asap kiriman dari aktivitas Karhutla di wilayah Kalimantan, sehingga diperlukan pemantauan dan verifikasi lintas instansi,” ujar Muhammad Yasir Fattah, Senin, 5 Oktober 2026.

Yasir menjelaskan, dari perspektif penanggulangan bencana, kualitas udara merupakan bagian dari dampak yang harus diantisipasi secara serius. Paparan asap dalam jangka panjang dapat mengganggu pernapasan, terutama terhadap kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta masyarakat yang memiliki aktivitas tinggi di luar ruangan.

Oleh karena itu, BPBD Provinsi Sulawesi Barat bersama BPBD Kabupaten Mamuju dan unsur terkait akan terus melakukan pemantauan perkembangan kondisi lapangan, informasi kualitas udara, potensi Karhutla, serta dampaknya terhadap masyarakat.

Menurutnya, koordinasi lintas sektor menjadi kunci. BPBD akan memperkuat koordinasi dengan BMKG untuk informasi cuaca dan kualitas udara, Dinas Kesehatan untuk kesiapsiagaan layanan kesehatan dan dampak ISPA, Dinas Lingkungan Hidup untuk pemantauan partikulat, serta pemerintah kabupaten, TNI/Polri dan unsur terkait untuk pengendalian Karhutla di lapangan.

Langkah ini diperlukan untuk memastikan informasi yang diterima masyarakat bersifat akurat, terverifikasi, dan dapat ditindaklanjuti tanpa menimbulkan kepanikan.

BPBD Provinsi Sulawesi Barat mengimbau masyarakat untuk:

1. Mengurangi aktivitas di luar ruangan apabila kondisi udara terlihat semakin berasap atau berbau asap menyengat.

2. Menggunakan masker, terutama bagi masyarakat yang harus beraktivitas di luar rumah.

3. Menutup pintu dan jendela apabila konsentrasi asap di luar rumah meningkat.

4. Memastikan anak-anak, lansia dan kelompok rentan tidak terlalu lama berada di luar ruangan.

5. Masyarakat yang mengalami sesak napas, batuk berkepanjangan, iritasi mata, pusing atau keluhan kesehatan lainnya agar segera mendapatkan pelayanan kesehatan.

6. Tidak melakukan pembakaran lahan, sampah, maupun aktivitas lain yang berpotensi memicu kebakaran.

7. Segera melaporkan apabila menemukan titik api atau kebakaran lahan kepada aparat/petugas terdekat atau melalui kanal penanganan kebencanaan yang tersedia.

“Masyarakat tidak perlu panik, tetapi jangan mengabaikan kondisi udara. Asap merupakan ancaman yang perlu direspons dengan kewaspadaan, perlindungan diri, dan informasi yang benar,” tegasnya.

BPBD Sulawesi Barat juga menegaskan bahwa penanganan kondisi ini bukan hanya persoalan pemadaman api, tetapi merupakan upaya perlindungan masyarakat secara menyeluruh, mulai dari pemantauan sumber asap, pengendalian Karhutla, pemantauan kualitas udara, perlindungan kelompok rentan hingga kesiapsiagaan layanan kesehatan.

Khusus masyarakat Kabupaten Mamuju, apabila kondisi asap semakin pekat dan jarak pandang menurun, masyarakat diharapkan mengutamakan keselamatan dan kesehatan serta mengikuti informasi resmi dari pemerintah dan instansi teknis.

“Siaga, Tanggap, dan Melindungi Masyarakat Sulawesi Barat.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *