MAMUJU (pelitapagi.com) Jika dahulu bunyi kertas uang dan tumpukan dokumen menjadi denyut utama ekonomi, kini layar ponsel dan aliran data mengambil alih peran itu. Dunia sedang bergerak menuju peradaban baru: paperless society. Di tengah arus besar perubahan tersebut, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Mamuju (UNIMAJU) tidak memilih menjadi penonton, tetapi tampil sebagai perancang masa depan.
Inilah semangat yang mengemuka dalam Dialog Awal Tahun Himpunan Mahasiswa Ekonomi Pembangunan (HIMEPA) UNIMAJU bekerja sama dengan Bank Indonesia Perwakilan Sulawesi Barat, bertema “Ekonomi Digital untuk Masa Depan: Apakah Sebuah Ancaman atau Tidak? Bagaimana Peran Mahasiswa”. Kegiatan ini akan digelar pada Senin, 26 Januari 2026, pukul 14.00 WITA hingga selesai, bertempat di Aula Kampus Universitas Muhammadiyah Mamuju.
Hadir sebagai pemateri utama dari Bank Indonesia, Fernando, didampingi Nurhadi dan tim, serta Dekan FBIS UNIMAJU Arsyad, S.Ag., MM. Dialog dipandu oleh Muh. Darwin dan Albert dari HIPEPA. Sementara itu, Rektor UNIMAJU, Dr. Muh. Tahir, M.Si, akan menyampaikan Keynote Speech yang menegaskan arah besar transformasi ekonomi digital di daerah dan peran strategis mahasiswa.
Ekonomi Digital: Keniscayaan Sejarah, Bukan Sekadar Tren
Dalam pandangan Rektor UNIMAJU, ekonomi digital bukan lagi pilihan, melainkan keniscayaan sejarah. Dunia bergerak menuju sistem tanpa kertas, tanpa batas ruang dan waktu, serta tanpa ketergantungan pada transaksi konvensional. Jika dulu kekuatan ekonomi diukur dari uang kertas dan dokumen fisik, kini ukuran daya saing bangsa ditentukan oleh data, algoritma, dan sistem digital.
“Mahasiswa, khususnya mahasiswa ekonomi pembangunan, bukan hanya penonton perubahan, melainkan aktor utama yang menentukan arah masa depan ekonomi nasional dan daerah, termasuk Sulawesi Barat,” tegasnya.
Narasi ini berjalan paralel dengan realitas lapangan: di satu sisi dunia berbicara tentang big data dan kecerdasan buatan, di sisi lain warung desa mulai menerima QRIS, UMKM memasarkan produk lewat media sosial, dan masyarakat perlahan meninggalkan uang tunai. Dua dunia ini bertemu di tangan generasi muda kampus.
Dari Sulbar untuk Dunia: Digital sebagai Jalan Pintas Kemajuan
Mengapa ekonomi digital diperlukan? Karena dunia menuntut kecepatan, efisiensi, transparansi, dan akurasi. Transaksi digital menekan biaya, memperkecil peluang korupsi, dan memperluas inklusi keuangan hingga ke pelosok. Bagi wilayah seperti Sulawesi Barat yang masih menghadapi keterbatasan akses layanan keuangan dan logistik, ekonomi digital justru menjadi jalan pintas untuk melompat dari ketertinggalan menuju kemajuan.
QRIS, mobile banking, e-wallet, dan platform digital UMKM membuka peluang agar desa langsung terhubung dengan pasar nasional bahkan global. Pertanian, perikanan, dan pariwisata tidak lagi bergantung pada rantai distribusi panjang, tetapi dapat dipasarkan langsung melalui teknologi.
Mahasiswa sebagai Jembatan Teori, Kebijakan, dan Praktik
Ekonomi digital melibatkan semua sektor:
Negara, melalui Bank Indonesia, menjaga stabilitas sistem pembayaran dan moneter.
Pemerintah membangun regulasi dan infrastruktur digital.
Dunia usaha menciptakan inovasi teknologi.
Masyarakat menjadi pengguna sekaligus produsen nilai digital.
Dan perguruan tinggi, termasuk UNIMAJU, menjadi pusat pengkajian, kritik, serta perancangan model ekonomi digital yang berkeadilan.
Di sinilah mahasiswa berdiri: sebagai jembatan antara teori, kebijakan, dan praktik lapangan.
SWOT Ekonomi Digital: Tantangan Sekaligus Peluang Besar
Jika dianalisis dengan pendekatan SWOT, maka:
• Kekuatan: efisiensi, kecepatan, transparansi, dan jangkauan pasar luas.
• Kelemahan: ketergantungan teknologi, literasi digital yang belum merata, risiko keamanan data.
• Peluang: lahirnya lapangan kerja baru, percepatan pembangunan daerah, promosi potensi lokal Sulbar.
• Ancaman: dominasi korporasi besar, kesenjangan digital, serta risiko masyarakat hanya menjadi konsumen, bukan produsen nilai
Di sinilah peran mahasiswa menjadi krusial: memastikan ekonomi digital tidak hanya menguntungkan segelintir pihak, tetapi berpihak pada keadilan sosial dan ekonomi lokal.
Skill Mahasiswa: Lebih dari Sekadar Bisa Menggunakan Teknologi
Mahasiswa ekonomi pembangunan dituntut menguasai:
• Literasi digital,
• Analisis data,
• Pemahaman fintech dan sistem pembayaran,
• Kewirausahaan digital,
• Pemikiran kritis,
• Etika ekonomi digital.
Mereka bukan hanya pengguna teknologi, tetapi perancang kebijakan, konsultan UMKM digital, dan agen literasi ekonomi modern di masyarakat.
Ekonomi Digital sebagai Proyek Peradaban
Dialog ini menegaskan satu hal penting: ekonomi digital bukan semata persoalan teknologi, melainkan persoalan peradaban. Ia menuntut manusia yang berilmu, beretika, dan berpihak pada kemanusiaan.
“Teknologi adalah alat, bukan tujuan. Pembangunan adalah tentang memuliakan manusia,” menjadi pesan kunci yang akan menggema dalam forum ini.
Dari Kampus untuk Bangsa
Dengan semangat itu, HIPEPA UNIMAJU dan Bank Indonesia Sulawesi Barat menghadirkan dialog yang bukan hanya diskusi akademik, tetapi gerakan kesadaran kolektif.
Sebagaimana simpulan dan seruan semangat kegiatan ini:
“Bangun ekonomi digital dengan akal, etika, dan keberanian. Jadikan teknologi sebagai jalan mempercepat keadilan, bukan memperlebar ketimpangan. Dari kampus untuk bangsa, dari Sulbar untuk Indonesia, mahasiswa adalah arsitek masa depan ekonomi yang berdaulat, berkeadilan, dan bermartabat.”
Di Aula Kampus UNIMAJU, Senin sore itu, masa depan ekonomi digital Sulawesi Barat bukan hanya dibicarakan. Ia sedang dirancang.
Oleh Dr M Thahir
Dosen Pasca Sarjana Unimaju









