Mateng (pelitapagi.com) Dinas Pangan Daerah Provinsi Sulawesi Barat melalui Bidang Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan terus memperkuat upaya percepatan penanganan stunting dan kemiskinan ekstrem melalui peningkatan kualitas konsumsi pangan masyarakat.
Salah satu langkah yang dilakukan yakni menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) Penyusunan Menu Beragam, Bergizi, Seimbang, dan Aman (B2SA) yang berlangsung di Aula KDMP Desa Tabolang, Kecamatan Topoyo, Kabupaten Mamuju Tengah, Rabu (8/7/2026) pukul 08.00–14.00 WITA.
Bimtek diikuti sebanyak 20 peserta, terdiri atas tujuh peserta dari Desa Tabolang, tujuh peserta dari Desa Tobadak, dan enam orang dari Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Mamuju Tengah.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari implementasi Panca Daya Gubernur Sulawesi Barat, Suhardi Duka, khususnya dalam penguatan sumber daya manusia yang sehat, berkualitas, dan berdaya saing melalui peningkatan kualitas konsumsi pangan keluarga.
Upaya ini juga mendukung percepatan penurunan angka stunting, pengentasan kemiskinan ekstrem, serta mendorong masyarakat membiasakan pola konsumsi pangan yang beragam, bergizi, seimbang, dan aman berbasis potensi pangan lokal.
Kepala Bidang Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan, Nugroho Hamid, mewakili Kepala Dinas Pangan Daerah Provinsi Sulawesi Barat, Suyuti Marzuki, mengatakan bahwa bimtek ini diselenggarakan untuk meningkatkan kapasitas para petugas dan kader di tingkat desa agar mampu menjadi agen perubahan dalam memperbaiki pola konsumsi pangan masyarakat.
Menurutnya, edukasi mengenai pemenuhan gizi sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun menjadi langkah strategis dalam mencetak generasi yang sehat dan bebas stunting.
“Periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (1000 HPK) merupakan masa yang sangat menentukan kualitas tumbuh kembang anak. Karena itu, diperlukan pemahaman yang baik dari seluruh pihak yang terlibat di tingkat desa agar mampu memberikan edukasi dan pendampingan kepada masyarakat mengenai pentingnya konsumsi pangan bergizi seimbang,” ujar Nugroho.
Ia menjelaskan, bimtek ini memiliki dua tujuan utama, yakni meningkatkan pengetahuan petugas mengenai pola konsumsi B2SA serta pemenuhan gizi pada 1000 HPK, dan meningkatkan kemampuan peserta dalam menyusun serta menyajikan menu yang memenuhi prinsip gizi seimbang.
“Dengan meningkatnya kapasitas peserta, diharapkan edukasi mengenai pola makan sehat dapat diterapkan secara berkelanjutan di lingkungan masyarakat,” ucapnya.
Peserta kegiatan berasal dari unsur pemerintah desa dan tenaga kesehatan yang memiliki peran langsung dalam pendampingan keluarga. Dari masing-masing desa, peserta terdiri atas satu kepala desa, tiga orang Tim Penggerak PKK, dua kader Posyandu, serta satu petugas gizi, sedangkan enam peserta lainnya berasal dari Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Mamuju Tengah. Kolaborasi lintas sektor ini diharapkan mampu memperkuat sinergi dalam mendukung program percepatan penurunan stunting.
Selama pelaksanaan bimtek, peserta memperoleh tiga materi utama, yaitu Pola Konsumsi B2SA, Pemenuhan Gizi pada 1000 Hari Pertama Kehidupan (1000 HPK), serta Petunjuk Pelaksanaan Pemberian Makan bagi Ibu Hamil, Ibu Menyusui, dan Balita Stunting. Materi tersebut disampaikan secara interaktif agar peserta tidak hanya memahami konsep, tetapi juga mampu menerapkannya dalam kegiatan pendampingan di desa masing-masing.
Nugroho menambahkan, kegiatan ini tidak berhenti pada penyampaian materi di ruang kelas. Setelah pelaksanaan bimtek, Dinas Pangan Daerah Provinsi Sulawesi Barat akan melakukan tindak lanjut berupa praktik pemberian makanan kepada ibu hamil, ibu menyusui, dan balita stunting di desa sasaran.
“Pendampingan lapangan tersebut diharapkan dapat memastikan ilmu yang diperoleh peserta benar-benar diterapkan, sehingga memberikan dampak nyata terhadap peningkatan status gizi masyarakat,” tutupnya.
Melalui kegiatan ini, Dinas Pangan Daerah Provinsi Sulawesi Barat berharap terbangun pemahaman yang sama di tingkat desa mengenai pentingnya pola konsumsi pangan yang beragam, bergizi, seimbang, dan aman.
Dengan dukungan pemerintah daerah, pemerintah desa, tenaga kesehatan, kader Posyandu, dan TP PKK, diharapkan upaya percepatan penanganan stunting di Sulawesi Barat dapat berjalan lebih efektif serta melahirkan generasi yang sehat, cerdas, dan berkualitas.












