Mamuju (pelitapagi.com) Puluhan massa yang tergabung dalam GMNI Cabang Mamuju siang tadi menggelar aksi di Depan Gerbang Kantor Bupati Mamuju, Senin 4 Mei 2026.
Aksi tersebut untuk menyampaikan jeritan hati para buruh perempuan yang diduga mengalami pemaksaan bekerja meski dalam kondisi hamil. Tak hanya itu harapan anak-anak di pelosok Kalumpang yang sekolahnya nyaris terlupakan juga tak luput disampaikan dalam aksi ini.
“kabar dari SMP 9 Kalumpang dan SDN Patudaan dan SDN Bau, tempat di mana infrastruktur pendidikan dan pemerataan guru masih menjadi mimpi yang mewah,”ungka Alni Gian Lbo dalam orasinyaa
Ia mengatakan aksi yang digelar bertepatan dengan momentum Hari Buruh dan Hari Pendidikan Nasional ini sangat disayangkan sebab tak mendapat jawaban dari pihak birokrasi.
“GMNI Mamuju membawa isu yang menyentuh nurani perlindungan bagi kaum ibu dan disabilitas di dunia kerja. Mereka menuntut hak sederhana namun sering terabaikan, yakni cuti haid dan hamil,”ungkap Alni
“Bagaimana kita bicara martabat jika pekerja perempuan kita masih kesulitan mendapatkan hak reproduksinya, Bagaimana kita bicara keadilan jika upah mereka masih dikebiri di bawah standar UMR,”ungkapnya Alni dalam orasinya
Olehnya ia mendesak Pemkab Mamuju untuk segera membentuk Posko Pengaduan buruh agar tak ada lagi pekerja yang merasa sendirian saat menghadapi diskriminasi atau pelecehan di tempat kerja.
Dalam aksi itu juga massa aksi mempertanyakan nasib anak-anak putus sekolah yang terpaksa bekerja sebelum waktunya, serta mengecam keras dugaan adanya mafia KIP yang tega mencuri jatah pendidikan bagi anak-anak miskin.
GMNI juga menuntut agar kearifan lokal (Mulok) diajarkan kembali, agar identitas anak-anak Mamuju tidak hilang ditelan zaman.
“Kami tidak butuh janji manis di atas kertas. Kami butuh progres nyata dalam 7 hari. Jika nurani pemerintah tetap beku, maka kami pastikan gelombang massa yang lebih besar akan kembali datang menjemput keadilan,” tegas Ketua DPD GMNI Mamuju, Dicky Wahyudi (*)









