Mamasa (pelitapagi.com) Seorang anak di Desa Pamoseang, Kecamatan Mambi, Kabupaten Mamasa, S (12) mengidap epilepsi dan stunting, namun belum pernah sekalipun mendapatkan perawatan di rumah sakit umum.
Kondisi ini terungkap setelah Pemuda Pamoseang, Muhammad Ikbal, menyampaikan langsung situasi yang dialami keluarga tersebut. Ia menyebut, meskipun S terdaftar sebagai peserta BPJS Kesehatan dan statusnya aktif, orang tuanya tidak pernah membawanya ke RSUD.
“Bukan karena tidak ada BPJS, tapi orang tuanya terkendala biaya lain selama menjalani perawatan yang tidak ditanggung, seperti kebutuhan hidup sehari-hari saat mendampingi anak di rumah sakit,” kata Ikbal, Rabu (22/4/2026).
Orang tua S bekerja sebagai petani Nilam. Dalam dua tahun terakhir, harga nilam berada di kisaran Rp 650 ribu per kilogram. Namun, dengan masa tanam 5 hingga 6 bulan, hasil panen hanya sekitar 4 kilogram.
Penghasilan tersebut dinilai jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga, terlebih dengan kondisi dua anak yang membutuhkan perhatian khusus.
Selain S, anak mereka yang lain, A (7), juga mengidap down syndrome. Kondisi ini membuat orang tua mereka tidak dapat bekerja secara maksimal karena harus membagi waktu untuk merawat kedua anaknya.
Saat ini, kondisi S semakin memprihatinkan. Ia bahkan tidak mampu mengonsumsi nasi dan hanya bisa makan makanan seadanya seperti ubi rebus.
Situasi ini menjadi potret nyata kesenjangan akses layanan kesehatan bagi masyarakat di daerah terpencil.
Diperlukan perhatian serius dari pemerintah dan pihak terkait agar keluarga seperti ini mendapatkan pendampingan, baik dari sisi layanan kesehatan maupun bantuan sosial yang berkelanjutan. (*)












