MAMUJU (pelitapagi.com) Budaya bersepeda kembali bergeliat di tanah air, tak terkecuali di Sulawesi Barat (Sulbar). Kali ini bukan sepeda biasa, melainkan sepeda kalcer yang telah dimodifikasi sehingga memiliki nilai estetika dan gaya yang khas.
Di tengah maraknya sepeda kalcer saat ini, tak banyak yang tahu bahwa tren yang diidamkan kaum muda ini diperkenalkan oleh Pemuda Polewali Mandar (Polman), Agung Bayu Anugerah.
Agung, sapaan akrabnya, sejak dulu konsisten mendaur ulang rangka-rangka sepeda bekas yang awalnya tak dilirik siapa pun.
Agung memulai semuanya dengan penuh ketekunan. Ia berburu rangka-rangka sepeda bekas di gudang, pengepul besi, hingga ke daerah lain.
Rangka-rangka yang dianggap tak bernilai itu ia bongkar, ia potong, ia satukan kembali, lalu ia rakit menjadi sepeda kalcer dengan tampilan baru yang unik. Dari proses itulah, Agung perlahan memperkenalkan sepeda yang kini digandrungi anak muda Sulbar.
Tidak berhenti di proses merakit, Agung juga mengunggah hasil karyanya ke media sosial. Sepeda-sepeda modifikasinya ia jadikan konten, mulai dari proses perakitan sampai video test ride.
Konten-konten itulah yang membuat karyanya mendapat perhatian lebih luas, bukan hanya dari Sulbar, tetapi juga dari luar daerah. Engagement pun berdatangan, dan namanya mulai dikenal di komunitas sepeda, khususnya di Sulbar.
Seiring meningkatnya minat, Agung menceritakan jika sudah banyak yang tertarik memesan sepeda buatannya. Tak sedikit datang dari luar Polman yang sengaja memesan model kalcer.
“Sudah ada yang laku, banyak juga yang tanya-tanya, jadi alhamudlillah. Sebenarnya tidak nyangka karena ini cuma hobi, ternyata banyak yang suka juga,” kata Agung.
Keuletannya merakit limbah besi menjadi sepeda kalcer kini menjadi cerminan kreativitas yang tumbuh dari hal-hal sederhana yang kerap dianggap tak berharga.
“Dulu belum banyak yang peduli. Sekarang malah banyak yang suka,” tutur Agung.
Kini, sepeda kalcer menjadi salah satu simbol kreativitas anak muda di Sulbar, khususnya di Polman.
Bagi Agung, sepeda kalcer bukan sekadar alat transportasi atau olahraga. Ia menjadi ruang untuk berekspresi, berkumpul, dan saling menginspirasi.
“Yang penting senang dulu. Orang suka belakangan,” ujarnya sambil tertawa.
Agung berharap tren ini terus hidup, tidak hanya sebagai gaya, tetapi juga sebagai bukti bahwa kreativitas bisa tumbuh dari kegigihan dan keberanian memulai sesuatu yang dianggap remeh.
Saat ini, kata dia, budaya bersepeda kembali tumbuh sebagai pilihan transportasi ramah lingkungan. Hal itu terbukti dengan banyaknya para pekerja yang kini menggunakan sepeda sebagai transportasi untuk beraktivitas.
Dengan begitu, Agung percaya kebiasaan ini bisa membantu mengurangi polusi udara, sekaligus mendorong gaya hidup yang lebih sehat. (*)





