Mamuju (pelitapagi.com) Universitas Tomakaka (Unika) kembali menggelar acara wisuda hari ini di Ball Room D Maleo Hotel Jl Yos Sudarso Mamuju di Jl Yos Sudarso Mamuju
Jumlah wisudawan kali ini hampir menyentuh angka 500 orang, pihak kampus bergerak cepat melakukan reformasi akademik sekaligus mendobrak pakem lama rangkaian prosesi wisuda. Alih-alih menggelar acara formal yang kaku, Unika memilih memajukan jadwal ramah-tamah lulusan lebih awal pada tanggal 7 dan 8 sebelum puncak prosesi wisuda dimulai.
Keputusan berani ini sukses menciptakan atmosfer kekeluargaan yang intim dan hangat. Sebelum menghadapi momen sakral pelantikan, para lulusan, orang tua, dan dosen memiliki waktu yang lebih leluasa untuk saling berinteraksi, berbagi kisah perjuangan kuliah, hingga tertawa bersama tanpa sekat formalitas.
Namun, inovasi Unika tidak berhenti pada kemeriahan acara saja. Kampus ini menolak keras sekadar menjadi “pabrik pencetak ijazah”.
Guna memastikan ratusan alumni baru tersebut langsung terserap oleh pasar kerja dan tidak menambah angka pengangguran intelektual, pihak yayasan bersama rektorat telah menyiapkan strategi mitigasi yang matang.
Ketua Yayasan Tanratupattanabali, Dr.Muhammad Ybnu T, M.Pd.MM. menegaskan bahwa perubahan menyeluruh sedang digulirkan demi menjaga mutu lulusan di tengah ledakan kuantitas massa yang besar.
“Wisuda tahun ini memang berbeda, kami merangkaikannya dengan kegiatan ramah-tamah yang diambil lebih awal. Di sisi lain, untuk mengantisipasi lonjakan lulusan, kami menerapkan tiga langkah strategis. Yang pertama dan paling utama adalah melakukan penyesuaian kurikulum,” urai Dr.Muhammad Ybnu T, M.Pd.MM.
Melalui perombakan kurikulum ini, mata kuliah di dalam kelas akan diselaraskan secara dinamis dengan kebutuhan industri modern saat ini. Mahasiswa tidak lagi dicekoki teori-teori usang. Sebaliknya, mereka langsung dibekali dengan keterampilan praktis, literasi digital, serta keahlian terapan (applied skills) yang paling diburu oleh dunia kerja.
Sementara itu, Pendiri Universitas Tomakaka, Drs.H.Ahmad Taufan, MM, menegaskan lembaga pendidikan punya tanggung jawab moral besar atas masa depan mahasiswanya. Baginya, keberhasilan tidak boleh berhenti saat selembar ijazah diserahkan.
“Kami menetapkan penyelenggaraan pendidikan ini tidak lagi cuma sampai output, tapi wajib menyentuh outcome,” tegas Drs.H.Ahmad Taufan, MM.
Lewat orientasi baru ini, proses belajar di kelas dipastikan selaras dengan kebutuhan riil industri. Yayasan dan Universitas berkomitmen mendampingi penggalan karier alumni agar memiliki daya saing tinggi. “Artinya, kami memastikan alumni ini benar-benar diterima dan terserap di tengah masyarakat,” pungkasnya. Langkah progresif ini diharapkan menjadi role model baru dalam menekan angka pengangguran terdidik di Sulawesi Barat. (*)







