MAMUJU (pelitapagi.com) Jefriansyah merespon atas melemahnya nilai tukar rupiah beberapa waktu terakhir yang
hingga mendekati angka psikologis Rp17.000 per dolar AS.
Angka tersebut kata dia segera memantik kegelisahan publik, seolah menjadi penanda rapuhnya perekonomian nasional. Padahal pelemahan rupiah tersebut tidak bisa dibaca secara sederhana, apalagi disimpulkan sebagai kegagalan ekonomi domestik semata.
Rupiah bukan satu-satunya mata uang yang tertekan. Penguatan dolar AS terjadi hampir di seluruh dunia terutama terhadap mata uang negara berkembang. Kebijakan moneter Amerika Serikat yang mempertahankan suku bunga tinggi dalam jangka waktu lama telah menarik arus modal global kembali ke aset-aset berbasis dolar.
“Situasi ketidakpastian global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan ekonomi dunia, hingga volatilitas pasar keuangan mejadikan dolar AS kembali menjadi “safe haven” utama.”Ujar Jefri
Terjadi arus keluar modal (capital outflow) dari negara berkembang termasuk Indonesia.
Ketika investor global menarik dananya maka permintaan terhadap dolar meningkat, sementara pasokan dolar di pasar domestik berkurang. Kondisi inilah yang memberi tekanan langsung terhadap nilai tukar rupiah.
Sedangkan dinamika domestik, melemahnya kinerja ekspor akibat penurunan harga komoditas sementara impor tetap tinggi, menyebabkan tekanan pada neraca transaksi berjalan.
Sedangkan sisi lain, kebutuhan pembiayaan fiskal yang besar di tengah berbagai agenda pembangunan dan transisi pemerintahan membuat pasar semakin sensitif terhadap arah kebijakan ekonomi nasional.
Sentimen pasar dalam konteks nilai tukar sering kali bergerak lebih cepat dibandingkan data fundamental.
Perlu kita pahami pula bahwa level Rp17.000 bukan sekadar angka ekonomi, melainkan angka psikologis.
Ketika rupiah mendekati level tersebut maka perilaku spekulatif dan aksi lindung nilai (hedging) pelaku usaha meningkat. Nah, Fenomena ini sering kali memperkuat tekanan jangka pendek, meski tidak selalu mencerminkan kondisi fundamental ekonomi yang sesungguhnya.
Peran Bank Indonesia menjadi krusial. Otoritas moneter tidak tinggal diam. Intervensi di pasar valuta asing, pengelolaan likuiditas, serta penguatan instrumen moneter dilakukan untuk memastikan stabilitas nilai tukar.
Fakta bahwa rupiah tidak bertahan lama di level Rp17.000 menunjukkan bahwa stabilitas makroekonomi Indonesia masih memiliki bantalan yang cukup kuat.
Pelemahan rupiah ini seharusnya kita baca sebagai ujian ketahanan ekonomi nasional, bukan alarm kepanikan.
Tantangan ke depan justru terletak pada upaya memperkuat fondasi ekonomi jangka panjang yaitu meningkatkan daya saing ekspor, mengurangi ketergantungan pada impor, memperdalam pasar keuangan domestik, serta menjaga kredibilitas kebijakan fiskal dan moneter.
Pada akhirnya stabilitas rupiah tidak hanya soal angka di layar perdagangan, melainkan cerminan kepercayaan terhadap arah pembangunan ekonomi nasional. Selama kepercayaan itu terjaga, meski rupiah berfluktuasi, akan tetap memiliki daya tahannya. (*)







